Selasa, 25 Juni 2013

My Love P9, Sebuah Catatan Kehidupan

Biskota bagi beberapa orang mungkin bukanlah hal yang berarti banyak bagi kehidupan mereka, bahkan beberapa bismania pun jarang yang “melirik” bus kota. Apalagi bus kota jadul dengan body yang sudah usang. Tapi tidak bagi saya. Secara khusus terhadap bus kota Mayasari Patas 9 Pondokgede-Pasarbaru. P9 (singkatan Patas 9) memiliki arti khusus dalam hidup saya. 

Dimulai saat saya kecil (kalau ga salah tahun 1992an) ada bis Mayasari yang ngetem di terminal Pondokgede lama (sekarang jadi hypermarket), bis tersebut adalah P9. Dengan bis tersebutlah ayah dan ibu saya pergi menuju kantor mereka masing-masing di BPKP Pramuka dan NISP Gunung Sahari. Kadang saya suka diajak ikut ibu saya bekerja, otomatis P9 kami naiki. 

Tidak lama berpangkalan di terminal Pondokgede, P9 tergeser ke pemancingan Puspita (sekarang samping Halim Futsal). Pergeseran P9 tidak hanya sampai disitu, dengan dibukanya terminal Pinangranti maka bis-bis yang berpangkalan di pemancingan Puspita (diantaranya Gunung Mulia, Giri Indah merah dan berbagai bus Wonogirian) termasuk P9 dipindahkan ke terminal Pinangranti.



Banyak cerita yang sering diceritakan ibu saya soal P9. Mulai peminatnya yang banyak (waktu itu), menunggu P9 di Garuda (sekarang Tamini Square) padahal pangkalannya masih di Puspita sampai cerita lucu saat menunggu P9. Bagi saya kecil P9 memiliki arti sebagai pengantar saya ke kantor ayah. Saya kecil juga sempat rutin menggunakan P9 saat “ikut” ayah ngekost di Utan Kayu sedangkan sekolah di Skadron Halim. Sebenarnya ada moda transport lain yang bisa mengantar saya ke sekolah, yaitu PPD 41A (waktu itu menggunakan body baru Delima Jaya, mesin Nisan CB) dan juga si jangkung PPD bis tingkat (lupa nomor trayeknya). Namun entah mengapa saya lebih tertarik naik P9 (awal jatuh cinta mungkin). Waktu itu tahun 1998, pasca kerusuhan. Keadaan di Jakarta kurang aman dan nyaman. Isi dari P9 waktu itu anak STM (baik Boedoet, KR maupun Israel), namun mereka tidak mengganggu penumpang P9 termasuk saya yang berseragam SMP. 

P9 sempat mati suri, antara tahun 2000-2001. Waktu itu terasa banget susahnya tidak ada P9. Saya ketika itu akan ke Gambir untuk naik Gajayana ke Malang. Melewati terminal Pinangranti tidak ada bus hijau berlambang Bola Voli Bersayap. Saya lanjut ke UKI. Dari UKI saya naik Metromini AC Cilengsi Senen berbody RS Euroliner. Dari Senen mesti naik lagi metromini. Sangat tidak praktis. 

Tahun 2001 P9 kembali hadir melayani warga Pondokgede. P9 bahkan sempat mengalami masa jaya dengan diperkuat 12 mobil, dengan selah (head away) 15 menit antar bis. Cerita dari mantan kru yang mengalami masa itu, P9 sering “main” alias kejar-kejaran antar bis (saya membayangkan seperti yang ada d P9A). Ah sayang saya belum “jadian” dengan P9 di masa itu. 

P9 mulai mengalami tren menurun ketika ada busway koridor 7 sekitar 2008. Karena penumpang pindah ke Busway?? Disini saya tegaskan TIDAK!! Melainkan karena banyak sopir P9 yng pindah ke busway. Sampai sekarang kalau saya bertemu dengan eks penumpang P9 di transjakarta mereka tetap mengharapakan P9 kembali hadir. Lebih murah, cepat dan praktis itu alasan mereka. 

Saya mulai bercinta mesra dengan P9 sekitar 2008. Ketika itu saya tiap hari naik P9 karena menjemput pacar saya magang di BPKP Pramuka. Intensitas naik P9 membuat saya makin jatuh hati (“puber” kedua setelah periode 1998). Suatu peristiwa membuat saya makin akrab dengan P9. Ketika itu (kalau ga salah Jumat 20 Agustus 2008) saya dan pacar menunggu P9 di seberang BPKP. Jam sudah menunjukan pukul 17:45 (biasanya jam 17:30 sudah ada P9 muncul), kami sedikit gelisah. Jam menunjukan 6 petang ketika ada 1 P9 berjalan diluar kebiasaan. Bis itu berjalan sangat kencang dan zig zag. Tepat di depan kami ada 1 taksi memepet P9 itu. Sang sopir keluar, dia marah-marah. Ternyata ada laka diantara mereka. Entah mengapa saat itu saya langsung reflek membela P9 hingga sang sopir taksi mau menyingkirkan bus nya. 

“di depan minggir lo”, kata sang sopir taksi. 

Taksi minggir, kami naik. Tapi P9 kami tidak berhenti melainkan langsung tancap gas (hwakakak). Taksi terus mengejar, P9 kami pun ga kalah lincah zig-zag nya. Sampai di kupingan fly over Pramuka taksi itu sukses memepet kami lagi. Entah negosiasi apa yang terjadi (saya diatas, karena ditahan pacar supaya ga ikut-ikutan ;-P). Taksi akhirnya menyerah. Pasca taksi menyerah, justru sopir P9 kami jadi bulan-bulanan ibu-ibu yang duduk di mesin (mercy OF 1987). Bahkan ada celetukan ibu-ibu tersebut yang membuat saya tertawa geli hingga sekarang; 

“kasian Ed (Edy), udah tua tuh sopir”, ujar salah satu ibu. 

“iya sampe gemeteran”, tanggap yang lain. 

“sama-sama orang Padang lagi”, celetukan ibu yang membuat saya tertawa. 

Ketika itu awal 2010, saya masih menganggur pasca lulus dari Kriminologi UI. Saya rutin mengantar jemput pacar saya ke kantornya di Pasarbaru. Hubungan saya dan P9 makin intim. Suatu ketika saya meminta ikut teriak diantara Senen-Pasarbaru. Sensasi luar biasa bagi saya merasakan menjadi kernet. 

Dan awal April 2010 hal itu terjadi, Pom Bensin Taman Mini, P9 no lambung C233 B7127PD mengantri isi solar di belakang Mayasari AC 70. Pei (si sopir, fb Shafei Muhamad) turun. Entah apa yang ada di pikiran saya hingga saya berani pindah ke kokpitnya. Dan entah apa yang ada di pikiran Pei ketika mengiyakan saya memajukan bis nya. Rem tangan saya tarik, gigi 2 saya masukan (dengan panduan Pei, maklum ga pernah nyetir Mercy hehe), gas saya injak tipis. Bis bergerak, agak kasar. Sampai ke posisi pompa, gigi saya netralkan, rem kaki saya injak. 

“rem tangan cuy”, kata Pei 

Ada tuas dekat setir saya tarik, lho koq gada bunyi “ceesss”. Tuas tersebut saya lepas, suara klakson menggelegar. 

“itu klakson bro”, kata Pei disertai tawa tukang pompa bensin dan raut tegang saya. 

Itulah peristiwa saya “diperawani” mengemudikan bis sebelum akhirnya sempat akrab dengan bis-bis generasi setelah OF mulai dari Mercy Intercooler 1997, Mercy King 1995, Hino RG 2004an hingga R260 keluaran 2011. P9 lah yang membimbing saya kesana. 

Rasa cinta saya ke P9 semakin besar. Hal inilah yang membuat saya miris ketika armada P9 dari hari ke hari semakin sedikit yang beroperasi. Mulai dari hanya jalan 4 mobil, 3, 2, hingga hanya jalan 1 mobil. 

“kurang kernet Ndre”, jelas Pei. 

Hal ini membuat saya memiliki ide gila, saya mau jadi kru nya!! 

Keinginan tersebut tidak serta merta terwujud. Pertengahan April 2010 jam 4 pagi saya dapat SMS dari Pei: 

“mau kerja ga?” 

“ngernet maksud lo?kapan?” 

“sekarang, gua ga punya kernet” 

DAMN!!! Pagi itu saya ada interview di salah satu TV swasta, saat itu pun saya bersiap dengan pakaian rapi untuk menuju interview tersebut. Ajakan Pei dengan berat hati saya tolak. Pagi itu saya naik P9 dengan kernet cabutan tukang ojek terminal Pinangranti. 

Penyesalan tersebut sangat mendalam, apalagi keesokan harinya Pei selalu ada kernetnya. Sampai satu sore Edi (sopir yang racing vs taksi) dating ke bis nya Pei. 

“I besok gw pinjem mobil lo ya, mobil gw ga rapih2 di bengkel” 

“oh ya udah, besok gw libur deh. Capek juga engkel 1 mobil 2 minggu” 

Wah kesempatan buat saya ngernet. Malamnya saya SMS Edi 

“Ed besok narik?” 

“iya bro, kenapa?” 

“udah punya kernet belum? saya mau dong ngernet” 

“wah saya kadung ajak si Belo narik” 

Dan sekali lagi saya kecewa gagal merasakan jadi kernet “professional”. 

Pagi itu seperti biasa saya akan mengantar pacar saya bereangkat naik P9. Baru saja akan mengunci pintu rumah, HP saya menerima panggilan. Dari Edi!! 

“Ndre dimana?” 

“baru mau ke Pinangranti” 

“mau kerja ga?” 

“lah bukannya udah ngajak Belo?” 

“Belo saya telponin ga angkat2” 

“oh ya udah. Tem berapa kita?” (saya lupa kalau hari itu Cuma ada 1 P9) 

“ya tem satu2nya” 

“trus bang Edi dmn?” 

“ini udah di terminal, penumpang udah pada naik nih” 

Langsung saya berganti pakaian dari kaos ke kemeja. Berangkat ke terminal. Sampai di Pinangranti P9 kami sudah penuh. Pacar saya naik ke dalam. Edi memberikan uang recehan kepada saya untuk kembalian. Saya sedikit tegang. Belum hilang tegang saya, seorang penumpang langsung menghardik, “cepet naik, udah siang nih!!” (wah ini tantangan jadi kernet, sabar sabar Ndre). 

Saya naik. Satu dua penumpang masih bertambah hingga kami masuk tol Tamanmini. Penumpang yang tadi kembali menghardik saya “cepet guntingin (tagih), keburu keluar toll oh!!”. Saya makin tegang. Satu dua uang receh Rp 500 jatuh dari tangan saya, saking tegangnya pacar saya tetap saya gunting!! Bahkan saya gunting Rp 3000 dari seharusnya Rp 2500!!. 

Banyak pelajaran yang saya dapat di hari pertama. Mulai dari soal cara menggunting, dimana membayar “uang jalur” sampai soal copet (ga saya dapat di bangku kuliah). Hari itu kami nanduk(mendapat pendapatan berlebih), sisa uang setelah setoran dan solar masih ada Rp 270 ribu. 


0 komentar:

Posting Komentar